Pada suatu detik yang begitu istimewa, aku dan temanmu menjadi saksi. Ketika air matamu turun, jatuh dari matamu. Begitu bening seperti embun yang bergoyang seirama dengan daun. Daun tempat embun bermuara di ujungnya untuk kemudian jatuh, menetes ke bumi. Adapun air matamu setelah menggumpal di sudut matamu yang terpejam, kemudian karena beratnya jatuh ke pangkuanmu.
Seiring dengan jatuhnya butiran bening itu, air matamu bukan prisma pembias cahaya yang kuingat. Tidak indah, berwarna-warni seperti ketika sinar matahari menembusi embun dan terbiaskan menjadi warna-warni pelangi. Manakala matamu kian terpejam dan mengikhlaskan sebuah butiran bening pergi darinya tanpa ucapan selamat tinggal. Ketika itu pula sebagian diriku terampas, aku memelukmu dan tak akan ku biarkan kamu menangis terlalu lama. Ada kesedihan yang memaksa masuk, menjadi pengganggu kebersamaan, kebahagiaan kita.
“Seandainya saja aku bisa membagi kebahagiaanku denganmu, akan kuberikan itu untukmu agar kamu tidak termenung dan bersedih”
Akhirnya, sebuah kemestian bila kita harus menikmati betapa pun sedihnya saat itu. Kamu menangis dalam diam, duduk sedikit di sampingku, air matamu berderai, sedikit pun tanpa isak yang terdengar. Lebih menyakitkan melihat air matamu jatuh satu demi satu seperti itu. Tidak… bukan seperti gerimis yang entah kenapa menurutku berisik saat jatuh di badan mobil dan di iringi bunyi wiper. Padahal, disaat yang berbeda, kita begitu menikmati bebunyian gerimis itu, entah ketika menabrak genteng, berbenturan dengan kaca jendela atau ketika bertumbukan dengan kerikil di halaman. Bunyi yang sama, tik-tak gerimis ternyata memberi efek yang berbeda dan bergantung pada suasana hati. Salahkah gerimis?
Dan aku, apa yang kulakukan selain duduk di sampingmu menyaksikan butir demi butir gerimis jatuh melalui bola matamu? Di luar pun butir demi butir air matamu jatuh di sampingku. Seperti patung polisi di perempatan yang tidak berdaya apa pun. Begitulah aku, tiada yang dapat kulakukan selain untuk menghiburmu. Mungkin ketika itu, kamu memasuki duniamu yang tak pernah temanmu ketahui, bahkan olehku. Sebenarnya, memang aku tak selalu memahami dan mengerti keadaanmu. Ah, maafkan aku. Barangkali saat kamu melihat ke arah handphone mu, ketika butiran-butiran bening itu jatuh, manakala bibirmu terkatup rapat dan tak membiarkan seorangpun tau apa yang kamu rasakan saat itu kamu sedang mencoba kembali bercanda dengan teman temanmu.
Prasangkaku itu, mungkin sekali salah, meski juga tidak menutup kemungkinan bahwa itu benar. Tetapi tidak, aku tak berani berjudi denganmu ketika kamu seperti itu. Salah-salah malah merusak segalanya. Seperti membangun tiruan gedung dari korek api. Banyak jeda yang harus diambil saat napas dihela agar ketegangan dan hembusannya tidak merusak susunan pondasi dari bangunan awal.
Detik-detik yang berjalan mengiringi mutiara air matamu yang berkelap-kelip saat cahaya menyapa. Hening yang menemani ketika diam mu seperti batu gunung yang teguh tak tergoyahkan. Mungkin adalah penanda ketika rapuhmu hancur menjadi serpihan yang terserak. Rapuh yang sama dengan sekumpulan air terjun yang jatuh menimpa batu sungai, menjadi percikan untuk nantinya bersatu lagi, namun kapan?
Masa untuk terpejam, kemudian air bening menggumpal di sudut mata, lantas jatuh dan terpercik di rok sekolahmu pada akhirnya juga akan selesai. Ketika kamu sadar bahwa sudah tak ada lagi kepingan yang tersisa yang masih mungkin merepih, retak dan terserak. Saat tak ada lagi yang tersisa, kembali kesadaran merampasmu dari pengembaraanmu di negeri antah berantah dan hanya kamu yang tahu rute menuju ke sana.
Di titik berangkat dan kembali, di sanalah aku akan menunggu. Penanda kedua titik itu adalah kesadaranmu yang kembali menguasaimu. Ketika kamu sadar pada usapan-usapan lembut telapak tanganku di punggungmu, menatapku sekilas kemudian rebah di tanganku dan tanganku terhenti untuk kemudian merangkulmu. Saat itu aku tahu kamu kembali di sini bersamaku, tidak lagi pergi entah ke mana.
Kau telah pulang, begitu batinku. Tetapi itu tak berarti berhenti menangis dan terdiam. Butiran bening itu masih juga terus keluar dari sela sela matamu yang kembali terpejam. Ketika kemudian menggumpal di sudut-sudut kelopak matamu, maka tak canggung kuseka dengan ujung jemariku. Begitu keluar lagi, kuseka lagi demikian seterusnya. Sesekali kamu melihatku, ada takut di sana, ada khawatir membayang di matamu yang memerah. Kemudian kamu peluk aku begitu erat 'gue gapapa del'. Melalui pelukan itu kamu seperti mengisyaratkan, “Temani aku, jangan kau tinggalkan aku.” Tak kalah hangat dan rapat kudekap pula kamu, semoga pun kamu tahu, bisikku dalam diam, “Tak akan kupergi, aku akan menunggumu di sini, menanti meski hanya sekedar menemanimu”
Pelukan yang tak lama karena kamu capek, lelah dengan semua yang terjadi. Perlahan-lahan kamu rebahkan kepalamu di tembok dan menutup kedua matamu dengan handuk ku. Tidak… bukan tertidur karena butiran-butiran bening itu masih juga keluar, menggumpal lagi dan kuseka. Inilah masa ketika kamu mengumpulkan kembali serpihan-serpihan yang terserak. Sedikit demi sedikit dikumpulkan dan dibentuk lagi menjadi kamu yang kukenal, meski entah kapan akan merepih lagi dan terserak, kita berdua tahu benar itu.
Biarlah derai air mata itu tetap jatuh, jangan kau tahan.
Puaskanlah tangismu, bila dengan itu kamu akan menjadi serpihan untuk kemudian terkumpul lagi. Seperti percikan air terjun yang kemudian berkumpul menjadi anak sungai menuju samudera. Mungkin dunia tak akan pernah mengerti, bahkan aku yang tidak akan tau apa yang kau rasakan. Abaikan saja mereka yang kembali bercakap-cakap dan tak juga hirau pada apa yang kau rasakan. Sedangkan aku, ijinkan aku menemanimu, biarkan aku menghapus air mata yang menodai kedua pipimu.
Gerimis masih juga turun di luar, tak hirau pada kita. Pada kamu yang membuat gerimis sendiri dengan air matamu. Pada aku yang tak berdaya kecuali hanya terdiam dan menemanimu.
Aku akan menemanimu sampai aku bisa melihatmu tertawa walaupun kamu dibelakangku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar